Koperasi, Yang Hidup Segan Mati Tak Mau

Views: 36
Iklan Pihak Ketiga
CopyAMP code
Waktu Baca1 Menit

Beritalidik.com ( Tegal )

Saat ini diduga banyak koperasi yang tidak menjalankan aktifitasnya, Kondisinya seakan -akan hidup segan matipun tak mau.

Hal ini dikatakan oleh Agil Riyanto, pengamat ekonomi yang mantan anggota DPRD Kota Tegal.

” Banyaknya koperasi yang hidup segan mati tak mau ini jelas menunjukkan ada sesuatu yang salah. Karena Indonesia memiliki pasal 33 UUD 1945 yang menjadi dasar hukum keberadaan koperasi serta Kementerian Koperasi dan UKM,” tutur Agil (16/4/2020).

Baca juga : https://beritalidik.com/tunjangan-hari-raya-dan-gaji-ke-13-bagi-pns/

Agil menduga ketiadaan aktifitas koperasi ini, pertanda kolaps, yang tentu saja sangat merugikan anggotanya. Hal ini mengingat, setiap anggota pasti mempunyai simpanan wajib dan simpanan pokok.

” Bila koperasi tidak berjalan, lantas kemana simpanan wajib dan Pokok milik anggota.” Katanya

Menurut Agil, seharusnya pengurus Koperasi mengadakan RAT ( Rapat Anggota Tahunan ) dengan menyampaikan perkembangan kegiatan koperasinya, sehingga ada transparansi dan tidak memunculkan dugaan negatif terhadap pengurus.

Akibat tidak ada laporan tahunan tegas Agil, patut diduga muncul penyelewengan terhadap uang anggota dan aset-aset koperasi.

Agil mengemukakan beberapa contoh koperasi yang tidak jelas aktifitasnya, seperti sebuah koperasi yang berada di Kelurahan Sumur Panggung, Kota Tegal.

Terkait hal tersebut, pihaknya nanti akan melakukan konfirmasi untuk mencari tahu, kenapa koperasinya tidak jalan.

Disisi lain Agil yang dikenal sebagai pegiat sosial dan sebagai Ketua GSPI ( Gerakan Sosial Peduli Indonesia) Kota Tegal menggambarkan, saat ini struktur perekonomian Indonesia terlalu didominasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan swasta.

“Peran koperasi saat ini praktis terpinggirkan. Sekarang mana ada proyek pemerintah yang memberikan ruang bagi koperasi ikut tender, atau sebagai penyalur KUR ( Kredit Usaha Rakyat);misalnya,” jelas Agil lagi.

Baca juga :https://beritalidik.com/perbaikan-jalan-di-tanjakan-clirit-tengah-dikebut/

Ia mengkritik kontribusi Dewan Koperasi Indonesia (Dekopin) dan Kementerian Koperasi dan UKM yang menurutnya hanya sekedar lips service.

Selama bertahun-tahun, Dekopin dan pemerintah tidak menunjukkan political will untuk sungguh-sungguh memperkuat koperasi.

Koperasi cuma identik dengan Koperasi Unit Desa (KUD) di wilayah pedesaan yang bergerak di simpan pinjam, Koperasi identik dengan usaha ecek-ecek dan tidak dibranding menjadi sebuah usaha dengan karakteristik yang modern, professional dan bagus.

“Padahal koperasi seharusnya menjadi soko guru perekonomian Indonesia dan berasaskan kekeluargaan, gotong royong dan untuk kesejahteraan bersama seluruh anggota,” tutup Agil Riyanto.(sus).

editor : irwan.jk

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan