Meraih Lailatul Qadar: Gus Ali Nubhan Ajak Umat Perbanyak Ibadah di Sepuluh Malam Terakhir Ramadan

Beritalidik ( Slawi )

Memasuki sepuluh malam terakhir bulan suci Ramadan, umat Islam dianjurkan untuk semakin meningkatkan ibadah. Malam-malam inilah yang diyakini menyimpan keutamaan besar, yaitu hadirnya malam Lailatul Qadar, malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.

Pengasuh Pondok Pesantren As-Syaifi Pancasila Sakti Lebakgowah, Kecamatan Lebaksiu, Kabupaten Tegal, Gus Ali Nubhan, mengajak umat Islam untuk memanfaatkan momentum tersebut dengan memperbanyak amal ibadah, seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, dzikir, dan memperbanyak doa.

Baca juga : https://beritalidik.com/membongkar-tabir-proyek-titipan-mengapa-desa-kerap-jadi-tumbal-bankab-dan-banprov/

Menurutnya, Lailatul Qadar merupakan malam yang penuh kemuliaan dan keberkahan, sehingga setiap Muslim dianjurkan untuk bersungguh-sungguh mencarinya.

“Lailatul Qadar adalah malam yang sangat istimewa. Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa malam ini lebih baik daripada s

eribu bulan. Artinya, amal ibadah yang dilakukan pada malam tersebut memiliki nilai pahala yang luar biasa,” ujar Gus Ali Nubhan saat ditemui di lingkungan pondok pesantren pada Sabtu ( 07/03/2026 )

Ia menjelaskan bahwa secara umum para ulama menyebutkan Lailatul Qadar berada pada salah satu malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadan, seperti malam ke-21, 23, 25, 27, atau 29. Namun, kepastiannya dirahasiakan oleh Allah SWT agar umat Islam bersungguh-sungguh beribadah di setiap malam.

Gus Ali Nubhan juga menekankan pentingnya menjaga niat dan keikhlasan dalam beribadah. Menurutnya, Lailatul Qadar tidak hanya diraih dengan banyaknya amal, tetapi juga dengan hati yang bersih dan penuh ketundukan kepada Allah SWT.

“Bukan hanya soal banyaknya ibadah, tetapi juga bagaimana kita memperbaiki hati, memperbanyak istighfar, memohon ampun, dan memperkuat hubungan dengan Allah. Itulah yang menjadi kunci meraih keberkahan Lailatul Qadar,” jelasnya.

Ia juga mengajak masyarakat untuk menghidupkan masjid dan mushala dengan kegiatan ibadah bersama, seperti tadarus Al-Qur’an, qiyamul lail, serta i’tikaf di sepuluh malam terakhir Ramadan.

Baca juga : https://beritalidik.com/revolusi-tata-kelola-guci-saatnya-berhenti-jadi-penjaga-loket-mulai-jadi-penggerak-ekonomi/

Menurutnya, kebersamaan dalam beribadah akan menumbuhkan semangat spiritual di tengah masyarakat, sekaligus memperkuat nilai-nilai keagamaan.

“Ramadan adalah momentum memperbaiki diri. Jika kita bersungguh-sungguh di sepuluh malam terakhir ini, insyaAllah kita akan mendapatkan keberkahan yang luar biasa, termasuk kesempatan meraih Lailatul Qadar,” pungkasnya. (***) 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *